TAPI, KUPUNYA DOA IBU #1

Pukul enam pagi, Raihan
Mahardika mengirim satu pesan ke grup keluarga.
“Besok lusa aku ke
Jakarta. Mau mulai hidup dari nol.”
Lima menit kemudian, ponselnya bergetar.
“Hah?”
“Ke Jakarta ngapain?”
“Serius?”
Kakaknya, Rani, bahkan bertanya, “Kamu sudah sarapan?”
Raihan tersenyum. Di tengah kepanikan keluarga, pesan ibunya justru paling
singkat.
“Sarapan dulu, Nak.”
Begitulah ibu. Ketika anaknya sedang memikirkan masa depan, ia masih
memikirkan perut anaknya.
Raihan baru lulus kuliah. Usianya dua puluh dua tahun. Gelar sudah ada,
tetapi arah hidup belum. Tiga bulan terakhir ia mengirim lamaran kerja ke
berbagai tempat. Sebagian tidak membalas, sebagian lainnya menolak dengan
kalimat sopan.
Akhirnya ia memilih Jakarta.
Bukan karena sudah mendapat pekerjaan. Ia hanya membawa satu koper, ransel,
laptop tua, dan keberanian yang bahkan belum tentu cukup untuk satu perjalanan.
Malam sebelum berangkat, ia memeriksa kopernya berkali-kali. Enam kaus, dua celana, jaket, laptop,
charger, dan sebuah mukena kecil milik ibu.
Ibu yang masih terjaga di
dapur menyiapkan bekal.
“Bukannya besok aku bisa
beli makan di jalan?”
“Bisa. Tapi belum tentu kamu
mau makan kalau sedang sibuk.”
Raihan ingin berkata bahwa
ia sudah dewasa dan mampu mengurus diri sendiri. Namun ia mengurungkan niat
itu.
Ada kasih sayang yang tidak
perlu dijelaskan.
Cukup diterima.
Dua hari kemudian, Raihan berdiri di Stasiun Purwokerto.
Kereta belum datang, tetapi
hatinya sudah ingin pulang.
Ia memandang kota yang selama dua puluh dua tahun menjadi rumah. Tiba-tiba
jalan, udara, dan rumah sederhana mereka terasa begitu berharga.
“Bu…”
Ibunya menoleh.
“Boleh nggak aku batal?”
“Kamu tidak jadi berangkat karena takut atau memang tidak ingin?”
“Takut.”
Ibu menggenggam tangannya.
“Kalau begitu, berangkatlah dengan takutmu.”
Raihan menatap ibunya.
“Takut bukan tanda kamu
lemah. Kadang takut adalah tanda bahwa sesuatu memang penting.”
Kereta datang.
Raihan memeluk ibunya,
mencium tangannya, lalu naik.
Dari balik jendela, ia melihat Purwokerto perlahan menjauh.
Ia tidak benar-benar
meninggalkan rumah.
Ia hanya
sedang belajar menemukan jalan untuk kembali dengan membawa cerita.

Komentar