TRIVISMAGZ"Membuka Jendela Digital, Menembus Batas Kreasi."
Pena Kreatif

TAPI, KUPUNYA DOA IBU #1

29 Sep 2026 16:14 · trivismagz · 44 dilihat

TAPI, KUPUNYA DOA IBU #1
Foto utama tidak dapat dimuat. Silakan unggah ulang foto dari menu Edit Artikel.

Pukul enam pagi, Raihan Mahardika mengirim satu pesan ke grup keluarga.

“Besok lusa aku ke Jakarta. Mau mulai hidup dari nol.”

Lima menit kemudian, ponselnya bergetar.

“Hah?”

“Ke Jakarta ngapain?”

“Serius?”

Kakaknya, Rani, bahkan bertanya, “Kamu sudah sarapan?”

Raihan tersenyum. Di tengah kepanikan keluarga, pesan ibunya justru paling singkat.

“Sarapan dulu, Nak.”

Begitulah ibu. Ketika anaknya sedang memikirkan masa depan, ia masih memikirkan perut anaknya.

Raihan baru lulus kuliah. Usianya dua puluh dua tahun. Gelar sudah ada, tetapi arah hidup belum. Tiga bulan terakhir ia mengirim lamaran kerja ke berbagai tempat. Sebagian tidak membalas, sebagian lainnya menolak dengan kalimat sopan.

Akhirnya ia memilih Jakarta.

Bukan karena sudah mendapat pekerjaan. Ia hanya membawa satu koper, ransel, laptop tua, dan keberanian yang bahkan belum tentu cukup untuk satu perjalanan.

Malam sebelum berangkat, ia memeriksa kopernya berkali-kali. Enam kaus, dua celana, jaket, laptop, charger, dan sebuah mukena kecil milik ibu.

Ibu yang masih terjaga di dapur menyiapkan bekal.

“Bukannya besok aku bisa beli makan di jalan?”

“Bisa. Tapi belum tentu kamu mau makan kalau sedang sibuk.”

Raihan ingin berkata bahwa ia sudah dewasa dan mampu mengurus diri sendiri. Namun ia mengurungkan niat itu.

Ada kasih sayang yang tidak perlu dijelaskan.

Cukup diterima.


Dua hari kemudian, Raihan berdiri di Stasiun Purwokerto.

Kereta belum datang, tetapi hatinya sudah ingin pulang.

Ia memandang kota yang selama dua puluh dua tahun menjadi rumah. Tiba-tiba jalan, udara, dan rumah sederhana mereka terasa begitu berharga.

“Bu…”

Ibunya menoleh.

“Boleh nggak aku batal?”

“Kamu tidak jadi berangkat karena takut atau memang tidak ingin?”

“Takut.”

Ibu menggenggam tangannya.

“Kalau begitu, berangkatlah dengan takutmu.”

Raihan menatap ibunya.

“Takut bukan tanda kamu lemah. Kadang takut adalah tanda bahwa sesuatu memang penting.”

Kereta datang.

Raihan memeluk ibunya, mencium tangannya, lalu naik.

Dari balik jendela, ia melihat Purwokerto perlahan menjauh.

Ia tidak benar-benar meninggalkan rumah.

Ia hanya sedang belajar menemukan jalan untuk kembali dengan membawa cerita.

Komentar